Read More Perbaharui inspirasi Anda setiap hari

Emas dan Permata Yang Ada Pada Diri Seseorang

Emas dan Permata Yang Ada
Pada Diri Seseorang hanya dapat dilihat dan dinilai jika mampu melihat di
kedalaman jiwa. Karena itu, jangan sekali-kali menilai seseorang dari
penampilannya saja tetapi lihatlah sesuatu yang lain yang lebih berharga dari Emas dan Permata.
Akhir-akhir ini sering sekali nilai diri seseorang
dikaitkan penampilan fisiknya, mulai dari pakaiannnya, aksesoris yang
digunakan, hingga perhiasan yang dikenakan pada tubuhnya. Berpenampilan menarik
memang menjadi nilai tambah bagi seseorang, namun kita hidup didunia ini bukan
sebatas kontes atau perlombaan berpenampilan menarik akan tetapi ada yang jauh
lebih bernilai dari itu semua.
Apakah sesuatu yang lebih bernilai pada
diri seseorang? Itulah yang biasanya disebut nilai diri seseorang, dan yang
menentukan bukan penampilan fisik dan aksesoris yang menghiasi tubuhnya
melainkan sejauh mana seseorang itu dapat bertumbuh kembang dan berguna untuk membantu
orang lain.
Pada perkembangan dunia mode yang saat
ini sedang menanjak, tidak heran orang cenderung berlomba-lomba untuk berburu
pakaian yang mewah, menarik dan sedap dipandang akan tetapi sering melupakan
sesuatu yang lebih bernilai terutama kemampuan yang ada pada dirinya.
Tidak lupa pula selain penampilan yang
menarik, aspek kecantikan juga mejadi buruan para kaum hawa. Mereka seolah
berlomba untuk tampil lebih cantik dan menarik dari wanita yang lainnya. Biaya yang
diperlukan pun tidak tanggung-tanggung, mencapai tiga digit.
Pada kesempatan ini, perkenankanlah admin
berbagi cerita tentang Emas dan Permata yang ada Pada Diri Seseorang. Kita intip
yuk cerita selengkapnya:
Jadilah Seperti Seorang Tukan Emas

Seorang
pemuda mendatangi seorang guru dan berkata. “Guru, saya tidak mengerti mengapa
orang seperti Anda mesti berpaiakan apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah
dimasa sekarang ini, berpaiakaian sebaik-baiaknya amat perlu, bukan hanya untuk
penampilan melainkan juga untuk banyak tujuan.

Sang
guru hanya tersenyum. Ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu
berkata: “ Sobat muda, akan ku jawab pertanyaan mu. Akan tetapi lakukanlah satu
hal terlebih dahulu untuk ku. Ambilan cincin ini dan bawalah ke pasar seberang
sana, bisakah kamu menjualnya seharga satu keeping emas?

Melihat
cincin sang guru yang kotor dan lusuh tadi, pemuda itupun merasa ragu, “Satu keeping
emas? Saya tidak yakin ini bias dijual seharga itu.”

“Cobalah
dulu sobat muda, siapa tahu kamu berhasil.”

Pemuda
itupun bergegas kepasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain,
pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata tak
seorang pun yang berani membelinya seharga satu keeping emas. Mereka hanya
beran menawarnya satu keeping perak. Tentu saja pemuda itu tak berani
menjualnya dengan harga satu keeping perak. Akhirnya Ia kembali ke padepokan
dan melapor kepada guru, “Guru tak  seorang
pun berani menawar lebih dari satu keeping perak.”

Sang
guru tetap tersenyum arif dan bijaksana. Lalu ia melanjutkan kata-katanya: “Sekarang
pergilah kamu ke took emas di belakang jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik
took atau penjual emas disana. Jangan buka harga, tetapi dengarkan saja bagaimana
ia memberikan penilaian”.

Pemuda
itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Tak lama berselang ia kembali lagi ke
padepokan dengan raut wajah yang lain. Ia kemudian melapor, “ Guru, ternyata
pedagang dipasar tidak tahu sesungguhnya nilai dari cincin ini. Pedagang emas
menawarnya dengan  harga seribu keeping emas.
Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi dari pada yang ditawar oleh
pada pedagang di Pasar”.

Sang
guru pun tersenyum sambil berujar lirih, “Itulah jawaban atas pertanyaan mu
tadi sobat muda. Seseorang tak dinilai hanya dari pakaiannya saja. Hanya pedagang
sayur, ikan, dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “Pedagang
Emas”.

“Emas
dan Permata yang ada pada diri seseorang hanya bisa dilihat dan dinilai jika
kita mampu melihat ke kedalaman jiwa. Diperlukan kearifan untuk menjenguknya. Dan
itu butuh proses sobat muda. Kita tidak bisa menilai hanya dengan tutur kata
dan sikap yang kita dengar dan lihat sekilas. Seringkali yang disangka emas
ternyata Loyang, dan yang kita lihat sebagai loyang ternyata adalah emas yang
sesungguhnya.

Demikianlah akhir dari cerita ini, semoga
dengan membacanya bisa mengingatkan kita semua akan pentingnya kearifan dan
kebijaksanaan dalam menilai sesuatu.
Kita sebagai manusia hendaknya tidak
bersikap seperti pedagang sayur, ikan, dan daging dalam menilai seseorang
tetapi bersikaplah seperti seorang “Pedagang Emas”.
Sekian sharing dari saya tentang Emas dan Permata Yang Ada Pada DiriSeseorang, semoga bisa menambah inspirasi Anda dalam menemukan
kebijaksanaan.

Salam Inspirasi

18 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.