6 Langkah Konkrit Menghilangkan Sifat Hypersensitif

Untuk mengetahui apakah diri Anda atau seseorang termasuk dalam kategori sensitif, cobalah dengan mengutarakan 5 pertanyaan dibawah ini, lalu jawablah dengan jujur.

1.Apakah Anda meledak dengan begitu cepat hanya karena seseroang melakukan kesalahan kecil?

2.Apakah orang-orang sering bilang bahwa Anda membangun tembok pembatas di sekitar Anda?

3.Apakah Anda pernah atau sering melakukan kesalahan?

4.Apakah orang-orang disekitar Anda merasa tidak nyaman ketika bersama Anda?

5.Apakah orang lain berpikir sulit ketika akan berurusan dengan Anda?

Jika Anda atau seseorang menjawab 4 ya, dari ke 5 pertanyaan diatas, maka hipersensitif telah merusak kebahagiaan pribadi Anda. Orang yang sangat sensitif akan mudah terpancing oleh emosinya sendiri. Coba tebak, Siapa yang bisa bahagia jika mereka hidup dalam kemarahan dan emosi yang konstan?

Artikel lainnya: Belajar mengakui kelemahan diri untuk Menjadi rendah hati.

Nah, untuk menghentikan sfat sensitif dalam diri Anda, cobalah 6 langkah konkrit berikut:

1.Ingatkan diri Anda ketika Anda mulai merasa tersinggung

Sebenarnya langkah ini cukup sederhana, ketika kepala Anda mulai panas dengan sikap orang lain, cobalah bertanya pada diri sendiri “mengapa saya harus marah?”, “Apakah ini sepadan dengan masalahnya?”, “Ini bukan kesalahan yang harus dilebih-lebihkan. “. Selain itu, cobalah mencari alasan lain yang dapat mengurangi pelanggaran Anda. “Ah, itu tidak perlu diambil hati”, “mungkin dia tidak bermaksud menyinggung saya”

Ingat, alasan yang membuat kita mudah tersinggung adalah karena salah mengartikan pesan yang kita ambil dari kata-kata atau perlakuan orang lain. Jadi coba balikkan perspektif Anda ketika kekeliruan mulai muncul.

image by pixabay.com

2.Posisikan diri Anda sebagai seorang aktor

Agar kita tidak terlalu tersinggung dengan kata-kata dan sikap orang lain, belajarlah menempatkan diri dalam perspektif pelaku atau sang aktor. Dengan begitu kita akan menyadari bahwa niat pelaku untuk menyakiti kita tidak sebesar respons kita sendiri yang tersinggung tadi.

3.Ambil sisi positif dari sikap orang lain

Sebagian besar dari kita tersinggung karena kita pikir ada niat buruk dan motivasi buruk dari pelaku. Jika Anda berhadapan dengan kondisi ini, cobalah untuk berpikir dan menerima niat dan motif yang baik yang mungkin ada di balik sikap dan perkataan pelaku.

Mungkin kata-kata itu tidak enak didengar, tetapi mungkin ada niat baik dalam kata-kata dibawah ini.

“Sebelum tersinggung, coba pikirkan niat orang lain dengan pikiran jernih.”

Baca juga: cara menjadi orang yang sabar dan tidak mudah marah.

4.Cobalah berlatih untuk membedakan sikap orang lain

Banyak orang mudah tersinggung karena mereka tidak dapat membedakan pikiran dan emosi mereka. Ketika seseorang sangat erat memegang prinsip dan pola pikirnya sendiri, ia akan merasa sulit untuk menerima pikiran orang lain. Hasilnya mudah merasa ditolak, terluka, dan diabaikan.

Untuk mengatasi sensitivitas berlebihan ini, kita harus berpikir bahwa “kata-kata” seseorang tidak sepenuhnya mewakili sikap orang lain.

5.Belajar menjadi orang yang rendah hati

Jika kita rendah hati, kita akan belajar menanggapi kata-kata atau tindakan orang lain dengan hati yang luas. Kerendahan hati bukanlah tindakan bodoh yang membuat kita bimbang, tetapi sikap bijak untuk menyelamatkan diri dari pikiran bodoh dan sakit hati. Coba tebak, apa yang Anda dapat dari sifat yang sensitif? Pertentangan bukan? Dan itu tidaklah nyaman.

6.Kebenaran sangatlah penting daripada dianggap benar

Jangan terbiasa dengan telinga kita untuk mendengar kebenaran yang hanya ingin kita dengar. Ingatlah bahwa kebenaran dapat memperbaiki sesuatu yang salah dalam diri kita.

Jika orang lain menegur, mengingatkan, atau menyampaikan kebenaran (bahkan dengan cara yang tidak menyenangkan untuk didengar), cobalah untuk menghargai kebenaran yang disampaikan. Jangan karena Anda ingin membela diri dan menjadi benar, Anda mengabaikan kebenaran yang sesungguhnya.

So, masihkah Anda ingin menjadi orang yang sensi dan mudah meledak-ledak emosinya ketika orang lain membicarakan tentang kebenaran? Dan sanggupkah kita menjadi orang yang bisa mengendalikan emosi?

Sampai disini dulu sharing singkat kami pada kesempatan ini, mudah-mudahan apa yang baru saja Anda baca bermanfaat dan Anda tidak tersinggung atas perkataan yang kami ucapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.