Baca Disini Inspirasi liburan seru

Strategi Kepemimpinan, Mengamankan Diri Dan Runtuhnya Peradaban

Strategi Kepemimpinan, Mengamankan Diri Dan
Runtuhnya Peradaban
– Seorang pemimpin layaknya
seorang sopir yang sedang mengendarai kendaraan bermesin penggerak, yang
kecepatannya dapat disesuaikan oleh keinginan sang sopir/pemimpin. Cepat atau lambatnya
pergerakan kendaraan yang dikemudikan sangat tergantung pada seorang sopir
dalam menginjak pedal gas.
Demikian
pula dengan seorang pemimpin ketika mengendalikan roda kepemimpinan pada
perusahaan atau instansi yang di pimpinnya. Cepat atau lambatnya kemajuan
perusahaan/instansi pun akan sangat bergantung kepada kepiawaian seorang
pemimpin dalam mengelola (memanage) sumber daya yang dimilikinya, baik sumber
daya manusia (SDM), modal serta sumber saya lainnya.
Sebelum
Anda terlalu tegang dan panas dengan pembahasan kali ini, ada baiknya Anda
siapkan minuman ringan dingin yang dapat menyegarkan tubuh Anda. Oke, saatnya
kita masuk pada inti pembicaraan dan persiapkan diri Anda baik-baik.
Tugas
seorang pemimpin dan sopir sejatinya memiliki kemiripan, yaitu membawa dan
memastikan kendaraan (dalam hal ini perusahaan/instansi) yang di pimpinnya
kepada tujuan yang telah ditentukan/direncanakan. Namun didalam perjalannya,
tentu akan mengalami berbagai kendala, masalah serta hambatan dan dari sinilah
dituntut kecakapan seorang pemimpin dalam menyelesaikan kendala ataupun masalah
yang sedang dihadapi.
Untuk
dapat menjalankan roda kepemimpinan, seorang pemimpin wajib memiliki kemampuan
berikut ini:

Strategi Kepemimpinan
#1. Keahlian/Skill

Keahlian
adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang sifatnya spesifik,
fokus namun dinamis yang membutuhkan waktu tertentu untuk
mempelajarinya dan dapat dibuktikan. Keahlian merupakan kemampuan terstruktur
yang dimiliki oleh seseorang dalam bidang terntentu guna menunjang
keberhasilan.
Keahlian
dapat diperoleh dari pengalaman, oleh karenanya pemimpin yang berpengalaman
akan sangat berbeda keahliannya bila dibandingkan dengan pemimpin yang kurang
berpengalaman. Pengalaman biasanya didapatkan dari rentang waktu seseorang dalam
melakukan sebuah kegiatan.
Seperti
halnya seorang Sopir yang telah berpengalaman, cara menginjak pedal gas, pedal
rem dan kopling serta cara memutar setir akan mempengaruhi kenyamanan dalam
sebuah kendaraan. Kenyamanan dan keselamatan penumpangnya sangat tergantung dari
keahlian sang sopir.
Seorang
pemimpin yang telah memiliki keahlian dalam bidang kepemimpinan, tentu tidak
didapatkan sehari ataupun dua hari melainkan pengalamannya selama
bertahun-tahun untuk menggeluti pekerjaannya. Setiap hambatan yang dialami akan
sangat menentukan pengalamannya, jadi semakin jam terbangnya tinggi maka
keahliannya akan semakin bertambah.
Keahlian/Skill
apapun dapat dipelajari namun membutuhkan dedikasi yang tinggi untuk
mempelajari ilmu tersebut seperti perlunya mental positif, semangat motivasi,
waktu dan terkadang uang.
6
ketarampilan yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin
diantaranya:
Keterampilan Konseptual, Keterampilan Komunikasi, Keterampilan Teknis,
Keterampilan Manajemen Waktu, Keterampilan Membuat Keputusan, dan yang paling
utama adalah Keterampilan Kepemimpinan. Sedangkan menurut Armala
– Buku Saku Manger
, ada tiga keterampilan utama yang harus dimiliki yaitu
Technical Skill, Conseptual Skill, Soft Skill.
#2. Pengetahuan/Knowledge

Pengetahuan/knowledge
adalah kemampuan seseorang untuk mengenali suatu keadaan berdasarkan persepsi
pikirannya. Knowledge seseorang ditentukan oleh apa yang dipelajari dari
bahan bacaan, lingkungan pergaulan, pekerjaan dan lain sebagainya
Pengetahuan
diperoleh dari pendidikan, baik formal maupun non formal. Pengetahuan bisa
dipelajari, yang tentunya berkembang sangat dinamis. Untuk itu perlulah selalu
diperbaharui agar pengetahuan tidak usang termakan zaman.
Pengetahuan
seorang tidak ditentukan oleh tinggi rendahnya tingkat pendidikan yang
dimiliki. Kebanyakan dari kita terkadang keliru dalam menilai tinggi rendahnya
pengetahuan seseorang. Jangan beranggapan bahwa orang yang berpendidikan rendah
memiliki pengetahuan yang rendah pula, sudah banyak pemimpin top dunia yang
membuktikan bahwa ketekunanlah yang menjadi kunci keberhasilan.
Pengetahuan
dalam hal kepemimpinan juga sangat bergantung pada diri seseorang. Apabila
rajin meningkatkan pengetahuan (mengupgrade kemampuan) melalui berbagai cara,
maka hasilnya juga akan mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang dalam
kepemimpinan.
Jadi
intinya Pengetahuan/Knowledge itu sendiri sangat
mudah didapatkan, apalagi dewasa ini ketika Anda ke internet tinggal searching
di google Anda sudah bisa dikatakan dapat mengeksplore knowledge dengan
jumlah yang tidak terbatas.
#3. Sikap/Attitude

Sikap adalah pernyataan
evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan
seseorang terhadap sesuatu. Sikap memiliki 3 komponen utama yaitu
kesadaran, perasaan dan perilaku. Yang paling menonjon dari ketiganya adalah
Perilaku.
Pada akhir tahun
1960-an, hubungan yang diterima tentang sikap dan perilaku ditentang oleh sebuah tinjauan dari penelitian. Berdasarkan evaluasi sejumlah
penelitian yang menyelidiki hubungan sikap-perilaku, peninjau menyimpulkan bahwa sikap tidak berhubungan
dengan perilaku atau, paling banyak, hanya berhubungan sedikit.
Penelitian terbaru
menunjukkan bahwa sikap memprediksi perilaku masa depan secara signifikan dan memperkuat keyakinan
semula dari Festinger bahwa hubungan tersebut bisa ditingkatkan dengan
memperhitungkan variabel-variabel penghubung.
Sikap/perilaku seorang pemimpin yang baik tentu dapat
menjadi panutan bawahannya. Berikut ini 10 sifat yang wajib dimiliki seorang
pemimpin yaitu: Visioner, Berkomunikasi dengan baik, Bersahabat dan Membumi,
Membuat orang lain melakukannya, Paham tentang bidang yang digeluti, jadi
panutan, Mudah untuk dinilai, Memiliki Kharisma, Sangat Tekun, Penuh Semangat.
Kombinasi ketiganya (Knowledge,
Skill,& Attitude)

dapat menjadikan seseorang menjadi pemimpin hebat, yang tentunya bukan seorang
pemimpin yang hanya mengutamakan kepentingan dirinya saja melainkan kepentingan
perusahaan/instansi yang dipimpinnya.


Strategi Mengamankan Diri

Strategi Mengamankan Diri
ala seorang sopir angkutan umum memang sering dipertontonkan oleh para pemimpin
abal-abal. Ditengah terjadinya kecelakaan hebat pada kendaraan yang
dikemudikan, hanya seorang sopir yang mampu bertahan dan selamat.
Ketika
seorang pemimpin hanya mengandalkan Strategi
Mengamankan Diri,
maka ketika terjadi gejolak yang berkepanjangan yang
diutamakan adalah keselamatannya sendiri dengan mengabaikan yang lainnya.
Padahal secara moral dan etika, pemimpin merupakan pemegang tanggung jawab
terbesar jika sampai perusahaan/instansi yang dipimpinnya menjadi Runtuh dan
Hancur berkeping-keping.
Hal
ini menandakan bahwa seorang pemimpin yang dianalogikan sebagai sopir tadi, benar-benar
memiliki insting untuk menyelamatkan diri, tanpa memperdulikan penumpang
ataupun kendaraan yang di kemudikan.
Ditengah
runtuhnya peradaban perusahaan, hanya satu orang yang mampu bertahan, itupun
kalau benar-benar bertahan, kemungkinan terbesar adalah dihantui rasa bersalah
sepanjang hidupnya.
Akan
lebih bijak bila seorang pemimpin berhenti sejenak untuk jeda, bila memang
merasa sudah tidak mampu lagi untuk mengendalikan roda kepemimpinan. Demikian
halnya seorang sopir, jika sudah lelah dan mengantuk beristirahatlah sejenak
agar tidak membahayak kendaraan maupun penumpang.
Hal
ini menunjukan kepada kita bahwa semua manusia memerlukan waktu untuk jeda,
selain itu kita memerlukan orang lain untuk membantu memperlancar perjalanan. Seorang
pemimpin dan sopir sesungguhnya erat kaitannya dan selalu berhubungan terutama
ketika sama-sama mengendarai kendaraan.
Tanda-Tanda Runtuhnya Peradaban Perusahaan/Instansi

  • Pergerakan
    semakin lamban bahkan terkesan statis
  • Permasalahan
    internal tidak tertangani dengan tuntas
  • Omzet
    menurun yang berimbas pada menurunnya keuntungan dan terkesan merugi
  • Terjadi
    kemunduran hampir di semua aspek yang ada
  • Sumber
    daya yang dimiliki tidak mampu dikelola sehingga tidak produktif
  • Terjadi
    konflik internal yang berujung pada kehancuran
(Penjelasan Tanda-Tanda Runtuhnya Peradaban Perusahaan, akan di jelaskan pada artikel selanjutnya)
Kesimpulan

Untuk
menjadi seorang pemimpin, kita wajib
memiliki Keahlian (Skill), Pengetahuan
(Knowledge) dan Sikap (Attitude). Pengetahuan/knowledge bukanlah keahlian/skill jadi seberapa banyak pun Anda tahu, tidak dapat
dikatakan Anda mempunyai skill terhadap hal tersebut kecuali Anda take
action
dan akhirnya menemukan pola tertentu sehingga cara berpikir Anda
menjadi sebuah keahlian/skill. Yang terpenting dari kedua hal diatas adalah Sikap (Attitude), karena
pengetahuan dan keahlian tanpa sikap sama seperti berjalan dalam kecepatan
tinggi di kegelapan yang hasilnya tentu buruk. 

Seorang pemimpin yang hanya mengutamakan kepentingan
pribadinya tentu akan mengedepankan Strategi
Mengamankan Diri
di balik Runtuhnya
Peradaban
, tidak layak disebut sebagai pemimpin. Untuk itu jadilah seorang
pemimpin yang memiliki integritas (Setia Kepada Yang Benar) dan Loyalitas
tinggi dalam memimpin.

Untuk menjadi seorang pemimpin wajib memiliki Keterampilan
Konseptual, Keterampilan Komunikasi, Keterampilan Teknis, Keterampilan
Manajemen Waktu, Keterampilan Membuat Keputusan, dan yang paling utama adalah
Keterampilan Kepemimpinan. Sedangkan menurut Armala
– Buku Saku Manger
, ada tiga keterampilan utama yang harus dimiliki yaitu
Technical Skill, Conseptual Skill, Soft Skill.

Demikian
ulasan tetang Strategi Mengamankan Diri
Dan Runtuhnya Peradaban,
semoga memberikan
pencerahan serta motivasi untuk bergerak lebih maju.

Seperti
biasa, jika Anda merasa arikel ini bermanfaat silahkan bagikan melalui tombol
social media dibawah artikel ini.
Sumber Bacaan:

Tags:
60 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.